lebih dekat dengan sahabat 17: Sa’id bin ‘Amir

Seperti kata pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, pada Ramadan kali ini saya akan mencuplik beberapa kisah ringkas sahabat Rasulullah. Mengapa ringkas? Karena saya sangat menyadari di sini bukan tempatnya untuk berpanjang-panjang menguraikan sesuatu. Disajikan ringkas karena memang sifatnya perkenalan. Tentu saja untuk mengenal lebih dalam, teman-teman saya harap bisa mencari sumber lain yang pastinya bertebaran di luar sana. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk tulisan ini adalah “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid yang tersohor itu. Selamat berkenalan, selamat menjalankan ibadah Ramadan.
Di hari yang penuh keberkahan ini, saya akan mengajak teman-teman untuk menengok kisah sahabat lain yang tak kalah menakjubkan. Memang jika dibandingkan sahabat-sahabat sekaliber Abu Bakar atau pun Umar, ia memang hampir jarang kita dengar namanya. Akan tetapi cerita keteladanannya sungguh amat layak kita jadikan panutan, terlebih dalam hal kepemimpinan politik. Ditambah dengan kondisi kekinian kepemimpinan politik di negeri kita yang begitu carut marut, kisah yang akan saya tuturkan ini layak dijadikan cermin bagi kita. Inilah dia kisah Sa’id bin ‘Amir.
Sa’id masuk ke dalam ajaran Islam tak lama sebelum pembebasan Khaibar. Semenjak itulah ia memberikan seluruh kehidupannya hanya untuk kemuliaan Islam. Namun, tentu saja jika kita melihat Sa’id hanya dari kacamata ini saja, kita tak akan melihat ada hal yang istimewa pada diri Sa’id di antara sahabat-sahabat yang lain. Jelas, karena pada masa itu, suasana kabatinan umat Muslim memanglah hanya dipenuhi ketaatan dan perlombaan dalam kebaikan.
Keistimewaan sahabat yang satu ini akan terang kita lihat ketika suatu ketika Umar memecat Mu’awiyyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria. Umar pun menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari penggantinya. Sudah sama-sama kita maklumi sistem yang digunakan Umar kala itu adalah sistem yang di dalamnya terkandung kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang. Sebab ia sangat percaya bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap penguasa di tempat yang jauh, yang akan ditanya oleh Allah kelak di akhirat adalah dua orang, Umar dan penguasa itu.
Setelah lama menimbang akhirnya Umar berseru,
“Saya menemukannya. Bawa ke sini Sa’id bin ‘Amir.”
Tak lama datanglah Sa’id untuk mendapat tawaran menjadi walikota di Homs. Namun, karena kezuhudannya Sa’id menjawab tawaran itu,
“Janganlah saya dihadapkan pada fitnah, duhai Amirul Mukminin.”
Dengan nada keras, Umar menjawab,
“Tidak, demi Allah, saya tak akan melepaskan anda! Apakah tuan-tuan hendak membebankan amanat dan khilafah di atas pundakku, lalu tuan-tuan meninggalkanku?”
Demi mendengar itu Sa’id tak bisa tidak akhirnya menerima jabatan itu. berangkatlah ia bersama isterinya yang cantik jelita menuju Homs. Mereka dibekali Umar uang secukupnya untuk keperluan di kota itu.
Ketika kedudukan mereka di kota Homs telah mantap, sang isteri bermaksud menggunakan haknya sebagai isteri untuk memanfaatkan harta yang telah diberikan Umar sebagai bekal mereka. diusulkannya kepada suaminya untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpang sisanya.
Mendengar permintaan isterinya itu, Sa’id menjawab,
“Maukah kamu saya tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita berada di suatu negeri yang sangat pesat perdagangannya dan laris barang jualannya. Lebih baik kita serahkan harta ini kepada seseorang yang akan mengambilnya sebagai modal dan akan mengembangkannya.”
Isterinya mempertanyakan bagaimana jikalau hal itu malah membawa kerugian bagi mereka. Sa’id pun menjawab bahwa ia akan menyediakan jaminan. Mendengar hal itu, tenanglah hati isterinya dan ia pun menyetujui ide Sa’id. Kemudian Sa’id membeli keperluan hidup dari jenis yang sangat bersahaja dan sisanya dibagi-bagikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.
Hari-hari pun berlalu. Isteri Sa’id masih bertanya bagaimana perdagangan mereka tempo hari. Sa’id menenangkan isterinya bahwa semuanya lancar bahkan keuntungannya sedang bertambah banyak dan kian meningkat. Hingga suatu hari isterinya mengajukan pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui perkara yang sebenarnya. Sa’id pun tertawa yang menimbulkan kecurigaan isterinya. Sang isteri pun mendesak Sa’id untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Sa’id pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Demi mendengar itu pecahlah tangisan penyesalan isterinya.
Sa’id memandangi isterinya yang semakin cantik ketika menangis itu, lalu berkata,
“Saya mempunyai teman-teman yang telah lebih dahulu menemui Allah dan saya tak ingin menyimpang dari jalan mereka, walau ditebus dengan dunia dan segala isinya.
Bukankah kamu tahu bahwa di dalam surge itu banyak terdapat gadis-gadis cantik yang bermata jeli, hingga andainya seorang saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, akan terang-benderanglah seluruhnya, dan tentulah cahayanya akan mengalahkan sinar matahari dan bulan.
Dan mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengorbankan mereka demi karena dirimu.”
Demi mendengar kalimat-kalimat itu isterinya pun diam dan maklum. Tiada hal yang lebih utama daripada mengikuti jalan yang sedang ditempuh oleh suaminya itu.
Nah, jika anda berpikir keluarbiasaan ini berakhir di sini, anda salah. Masih ada satu lagi kisah di antara banyak kisah luar biasa Sa’id. Suatu ketika Umar berkunjung ke Homs, lalu ditanyakannya kepada penduduk,
“Bagaimana pendapat kalian tentang Sa’id?”
Sebagian orang tampil ke depan mengadukannya. Salah seorang dari mereka kemudian menjadi perwakilan dan berkata,
“Ada empat hal yang hendak kami kemukakan: pertama, ia baru keluar mendapatkan kami setelah tinggi hari; kedua, tak hendak melayani seseorang di waktu malam hari; ketiga, setiap bulan ada dua hari ia tak hendak keluar mendapatkan kami hingga kami tak bisa menemuinya; keempat, dan ada satu lagi yang sebetulnya bukan merupakan kesalahannya tetapi mengganggu kami, yaitu bahwa sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.”
Umar pun tunduk sebentar, ia berbisik kepada Allah,
“Ya Allah, hamba tahu bahwa ia adalah hamba-Mu yang terbaik, hamba harap firasat hamba terhadap dirinya tidak meleset.”
Lalu tampillah Sa’id membela diri,
“Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tak hendak keluar sebelum tinggi hari, demi Allah, sebetulnya saya tak hendak menyebutkannya. Keluarga kami tak punya khadam atau pelayan, sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram, lalu saya membuat roti dan kemudian wudhu untuk shalat dhuha. Setelah itu barulah saya keluar mendapatkan mereka.
Umar berseri-seri mendengar hal itu,
“Alhamdulillah, dan mengenai yang kedua?”
Sa’id pun melanjutkan penuturannya,
“Adapun tuduhan mereka bahwa saya tak mau melayani mereka di waktu malam, demi Allah saya benci menyebutkan sebabnya. Saya telah menyediakan siang hari bagi mereka dan malam hari untuk Allah. Sedang ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan ketika saya tak bisa menemui mereka, sebabnya sebagai saya katakana tadi, saya tak punya khadam yang akan mencuci  pakaian, sedang pakaianku tidak pula banyak untuk dipergantikan. Jadi terpaksalah saya mencucinya dan menunggu sampai kering, hingga baru dapat keluar di waktu petang. Kemudian tentang keluhan mereka bahwa saya sewaktu-waktu jatuh pingsan, sebabnya karena ketika di Mekkah dulu saya telah menyaksikan jatuh tersungkurnya Khubaib al Anshari. Dagingnya dipotong-potong oleh Quraisy dan mereka bawa ia dengan tandu sambil mereka menanyakan kepadanya, ‘Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sehat wal afiat?’ Jawab Khubaib, ‘Demi Allah, saya tak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi oleh keselamatan dan kesenangan dunia, sementara Rasulullah ditimpa bencana, walau oleh hanya tusukan duri sekalipun.’ Setiap terkenang pada peristiwa yang saya saksikan itu, dan ketika itu saya masih dalam keadaan musyrik, lalu teringat saya berpangku tangan dan tak hendak mengulurkan pertolongan kepada Khubaib, tubuh saya pun gemetar karena takut akan siksa Allah, hingga ditimpa penyakit yang mereka katakan itu.”
Mendengar itu Umar tak dapat lagi menahan diri dan rasa harunya, berserulah ia karena sangat gembira,
“Alhamdulillah, karena dengan taufik-Nya firasatku tidak meleset adanya.”
Dirangkulnya dan dipeluknya Sa’id serta diciumnya kening sahabatnya itu, sahabat yang mulia dan bersinar cahaya.

No comments:

Post a Comment